• Hai, Welcome ! Like us on:

Pemikiran-pemikiran Kartini, tentang dan untuk Bangsanya


Sesuai dengan gelar kepahlawanan yang melekat pada dirinya, pembahasan tentang R.A. Kartini seringkali hanya berkutat pada masalah emansipasi wanita. Tentu hal ini tidak salah, tetapi terasa kurang lengkap karena sesungguhnya pemikiran Kartini tidak hanya terfokus pada perjuangan emansipasi, namun juga menyoroti berbagai persoalan hidup yang relevan sampai hari ini. Kumpulan surat-suratnya, kecuali menyuarakan penderitaan wanita yang diperlakukan secara tidak adil, juga memaparkan ’penyakit ’masyarakat, seperti korupsi, kemiskinan, candu, dan kemunafikan dalam beragama. Demikian fantastis dan visioner pandangan hidup Kartini, sehingga di zaman yang serba modern ini pun kita dapat memetik pesan-pesan yang memancar dari keindahan pekertinya, yang ia tuangkan lewat ketajaman pena dan pemikiran-pemikirannya yang cemerlang.
Salah satu contoh kepedulian Kartini terhadap moral masyarakat, ditunjukkan ketika ia menyoal para pecandu dan koruptor. Kepada Stella sahabatnya, Kartini mengungkapkan seluruh keprihatinannya. ”Suatu kejahatan, yang jauh lebih jahat dari minuman keras ada di sini, yaitu candu! Aduh, tidak terkatakan kesengsaraan yang dibawa oleh benda laknat itu di atas negeri saya, pada bangsa saya....Perut lapar dapat membuat orang menjadi pencuri, tetapi ketagihan madat membuat orang menjadi pembunuh....”
Bagi masyarakat zaman ini, pemikiran gadis Jepara di tahun 1899 itu dapat dimaknai sebagai tanda peringatan agar berhati-hati terhadap keganasan candu, yang saat ini kita kenal sebagai salah satu jenis narkoba. Apabila di abad yang lampau (bahkan jauh sebelum teknologi  komunikasi merajai dunia) sudah ada seorang dara belia yang berwawasan demikian luas dan bijak, bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai manusia-manusia modern ini? Hidup asal ’mengalir’, berkubang dalam narkoba dan hura-hura tanpa arah, bukanlah pilihan yang pantas dibanggakan karena justru menciderai kemajuan zaman yang dengan susah payah kita gapai. Setiap kemajuan semestinya menjadi berkah bagi kehidupan, bukan sebaliknya, merusak!
Kejahatan lain yang menjadi perhatian Kartini adalah perihal ’suap-menyuap’. Rupanya korupsi sudah ada sejak dulu dan Kartini dengan ketajaman nuraninya mengutuk praktek-praktek kotor itu. “….Tetapi kejahatan yang memang ada atau merajalela ialah hal menerima hadiah yang saya anggap sama jahat dan hinanya dengan merampas barang-barang milik rakyat kecil….” Hanya menerima hadiah, Kartini sudah menganggap penerimanya sebagai manusia yang hina. Baginya pemimpin adalah pemberi contoh, sehingga pemimpin yang egois dipandang tidak layak menduduki posisinya. Membaca pernyataan Kartini, tidak malukah para koruptor itu, yang tidak saja menerima suap, tetapi bahkan ’merampok’ uang rakyat demi memuaskan gelojoh dirinya? Dengan perilaku ’rendah’ tersebut, tidakkah sesungguhnya mereka sedang menghinakan martabat serta harga dirinya? Sayang sekali, saat ini banyak manusia yang sengaja membungkam nuraninya, sehingga betapa pun tangan mereka berlumur kejahatan, sedikit pun mereka tak merasa bersalah, apalagi menyesal. Tindakan memperkaya diri di atas penderitaan rakyat kecil dianggap biasa dan mereka merasa berhak atas harta haram tersebut. Sungguh, dalam hal ini mereka perlu ’bersimpuh’ di kaki Kartini, ’belajar’ dari perempuan belia yang ikhlas berjuang bagi kejayaan bangsanya itu.
Perjuangan ’mengangkat’ masyarakat agar tidak hidup dalam kemiskinan, juga dilakukan Kartini semasa hidupnya. Tanpa mempedulikan gelar kebangsawanannya, dengan semangat ia menawar-nawarkan hasil karya rakyat Jepara kepada para kenalan, sehingga perekonomian terus meningkat. Semua itu dilakukan Kartini demi rakyat, atas nama cinta. ”....Senang sekali bahwa sekarang sudah ada tiga cabang kerajinan seni yang berkembang di tempat kelahiran saya. Saat ini kami sedang berikhtiar mencari kerajinan lain yang akan kami galakkan. Mereka sekarang tahu, mengerti, bahwa maksud kami adalah memakmurkan mereka sendiri. Mereka maklum akan keuntungannya sendiri, dan mereka menghargai usaha kami....”
Demikian tulus Kartini’berbuat’ bagi bangsanya. Dalam setiap hembusan nafasnya ada kebaikan yang ia tiupkan untuk sesama. Dalam hal beragama pun Kartini menunjukkan iman yangbenar, sehingga setiap kali menjumpai kemunafikan, hatinya sedih dan terluka. Ia bergidik pada kekerasan, pembantaian, dan anarkhisme, lebih-lebih jika halitu dilakukan atas nama agama. ”...agama yang seharusnya justru mempersatukan manusia, sejak berabad-abad telah menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri. Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Esa dan Yang Sama....”
Pandangan Kartini tentang kehidupan beragama yang penuh toleransi, hendaknya kita jadikan permenungan. Memang benar, jika umat yang mengaku beragama mau saling memberi hormat dan saling mengasihi, maka pertumpahan darah yang disebabkan oleh agama mustahil terjadi. Kita tidak perlu alergi terhadap perbedaan. Bukankah Tuhanyang Mahakreatif memang menciptakan kita berbeda satu sama lain, dengan masing-masing memiliki keunikan? Bukankah pada hakikatnya keragaman adalah sebuah keindahan yang mendewasakan? Seperti Kartini, barangkali kita perlu meyakini satu hal, bahwa inti dalam semua agama adalah kebaikan. Dengan demikian, pendustalah kita jika sebagai umat beragama, perilaku yang kita tunjukkan justru melecehkan agama yang kita anut.
Memperingati hari Kartini tahun ini, jangan kita berhenti pada sekedar menyanyikan lagu ”Ibu KitaKartini”, atau menggelar upacara bendera dan serangkaian lomba, namun mari belajar dari pemikiran-pemikirannya.Semoga dengan jujur kita berani mengkui, betapa banyak noda yang telah kita biarkan mengotori perjalanan hidup kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai sebuah bangsa. Semoga kemudian kita tidak hanya ‘berpura-pura’ khusyuk menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini”, namun sungguh-sungguh menghargai perjuangannya dengan melaksanakan kebaikan-kebaikan bagi kemanusiaan.

Dhenok Kristianti

Guru BI GMIS Bali

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berargumentasi. ^_^
Readers may send comments on this post. The contents of comments not represent the views, opinions or policies Ikatan Alumni Titian Foundation and entirely the responsibility of the sender.

Readers can report a comment if it is considered unethical, abusive, defamatory, or redistributed. Ikatan Alumni Titian Foundation will consider each complaint and may decide to keep or delete the comment display.