• Hai, Welcome ! Like us on:

Kejujuran



Ternyata aku begitu marah dengan ketidakjujuran, mengingatkanku bahwa nilai ini ternyata amat penting dan sulit untuk kutoleransi. Aku menjadi menganalisa diriku sendiri tentang kemarahanku kepada Aco pagi ini, apakah ini soal ulahnya yang tidak mengerjakan PR lalu tidak paham-paham soal matematika sedangkan yang lain sudah mengerti atau ulah selanjutnya yang bikin aku amat geram... Atau bisa jadi ini adalah akumulasi ulah-ulah sebelumnya.
“Kalian sudah mengerti bagaimana caranya mendapatkan angka 4”  ucapku kepada anak-anak kelas 4. Salwa dan Ugy menjawab dengan penjelasan yang membuatku yakin mereka sudah paham. Lalu aku beranjak kepada Aco, yang dari tadi terlihat santai. Sebelumnya aku selalu bertanya kepada kelasku, “sudah selesai mencatat caranya di papan?”. Anak-anak terlihat lama menulis, dan khusus Aco, dia yang paling kencang menjawab “Sudah enci”,  berkali kali, lagi dan lagi...dia yang selalu bilang paling cepat “ sudah enci”. Jawaban Aco membuatku berfikir bahwa memang dia sudah selesai mencatat. Bagaimana Aco, coba jelaskan bagaimana cara mendapatkan angka 4 itu?”. Aco terlihat bingung dengan pertanyaanku, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab....”tidak tahu enci”, ucap Aco. “Kenapa tidak mengerti Aco, kenapa tadi tidak bertanya?”. Ucapku pada Aco. “Coba dibaca catatan yang tadi”, lanjutku pada anak ini.
Aco kemudian terlihat sangat bingung dengan permintaanku. Dia membolak balik catatannya beberapa kali. Kutegaskan padanya, “mana Aco, mana catatanmu”.   Aku kemudian meminta Aco membawa catatannya kepadaku, dan yap dia hanya mencatat beberapa kata awal saja, sisanya tidak ada. Kenapa Aco, kenapa tadi kamu berkata kepada Enci kamu sudah menyalin?. Aku menanyainya beberapa kali dengan pertanyaan yang sama tetapi dia hanya diam. Suaraku mulai meninggi, bukan hanya karena kejadian hari ini tetapi ketidakjujuran-ketidakjujuran lain yang sebelumnya dilakukan tidak hanya kepadaku tetapi orang sekitarnya.Kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu tidak menyalin Aco?. Rasa kesalku cukup memuncak hingga dengan cepat aku mengatakan banyak hal padanya. “ kalau kamu dari kecil sering tidak jujur begini, bagaimana nanti kalau kamu dewasa, siapa yang akan percaya kepadamu?kita boleh miskin Aco, tapi jangan jadi pembohong. Kalau gurumu saja kamu bohongi, apa kamu juga akan berbohong sama orang tuamu, enci..lebih suka kamu jujur walaupun nilaimu rendah dari pada kamu berbohong Aco”. Saat menulis ini kembali, aku menjadi berfikir, apakah dengan nada yang cukup tinggi tadi, apa yang kukatakan akan dipahami oleh anak ini.  
Aco hanya diam dan menulis-nuliskan sesuatu di meja. Tatap mata enci Aco....kenapa kamu diam saja. Aku kemudian memintanya untuk belajar di luar. “Silahkan keluar kelas saja Aco, kamu boleh pulang atau belajar diperpustakaan” pintaku kepadanya dengan nada yang sudah mulai terkendali. Aco menolak dan berkata “ janggan enci...”.  Aku kemudian mendiamkan dan tidak melibatkan Aco dalam proses pelajaran hingga selesai.
Ketika aku belajar psikologi dan mendapatkan pelatihan di Camp Pengajar Muda aku mendapatkan bekal bahwa secara teori pendidikan yang baik adalah berpusat kepada anak, menumbuhkan kesadaran pribadi, dan mengembangkan sesuai dengan potensi mereka. Sehingga seharusnya pembelajaran dibangun dengan suasana menyenangkan dan kontruks sesuai dengan level usianya. Jadi hei para guru, maka kreatiflah untuk membuat berbagai metode dan media belajar bagi anak. Kadang-kadang, jika menilik apa yang sudah dibekali kepadaku, menjadi sesuatu yang sangat utopis untuk dilakukan di sekolahku. Bekal yang kemudian dari hari kehari terus kubumikan dan mencari jalan tengah untuk mengajarkan sesuatu kepada mereka.
Ketika sebuah kultur yang jauh lebih mudah dengan didikan otoriter dan justru dianggap lebih manjur, atau ketika teguran lembut kepada anak justru tidak mempan????. Ketika pendekatan yang menyenangkan membuat anak kadang menggampangkan sesuatu? Ketika fokus guru seharusnya kepada sedikit anak bukan edisi paralelisme kelas dalam satu waktu, atau ketika menjadi PM dengan statusnya menjadi bagian dari warga desa ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Kesimpulan yang kudapat hari ini adalah sungguh luar biasa guru yang benar-benar berdedikasi itu ya....Ketika diantara banyak tuntutan peran di dalam hidupnya, namun mampu mendidik muridnya dengan baik. Sambil mengevaluasi diriku sendiri yang masih jauh dari kategori ini.
Well, Memang pada akhirnya, butuh tingkat kesabaran ala dewa untuk melakukannya, aku sebagai PM juga manusia bukan...yang bisa marah dan emosi menghadapi beberapa perilaku anak yang diluar toleransiku. Seorang teman pernah berkata kepadaku, marah kepada anak itu kadang-kadang diperlukan, biar anak-anak tau seorang guru itu adalah mengajar bukan menjadi badut yang hanya  membuat mereka senang. Yang terpenting setelah kamu marah adalah proses rekonsiliasi terhadap anak tersebut, sehingga marah akhirnya bisa menjadi pembelajaran untuk anak. Bahkan pada akhirnya di titik ini aku terus bertanya, pun jika akhirnya aku marah kepada anak, bagaimana seharusnya?. Pun nilai-nilai hidup yang kupunya, apakah memang sesuai dengan mereka?. Hemm...Aku sepertinya membutuhkan bekal ilmu lebih dari ini, lebih dari tumpukan buku yang pernah kubaca selama kuliah, atau runtutan uraian petuah dari para pakar yang pernah kudapatkan selama pelatihan. Menjadi seorang guru itu tidak hanya proses untuk terus bisa belajar tetapi cara untuk mencari defisini sabar.
Aco hanyalah salah satu anak dari puluhan anak yang sekarang menjadi bagian dari hidupku, yang dari hari ke hari tidak hanya memberikan pelajaran tetapi juga makna penting dalam diriku...membantuku mengenali lebih jauh apa dan bagaimana diri sebagai bagian proses untuk lebih baik.
Apapun... Alhamdulillah
Yuks, menikmati setiap detik yang sangat berarti...

Inspirasi dari Tasripin

KOMPAS/Gregorius Magnus FinessoTasripin (dua dari kanan) bersama ketiga adiknya di rumahnya di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (13/4). Tasripin terpaksa menanggung beban sebagai kepala keluarga setelah ditinggal kedua orangtuanya. Mereka sebatang kara setelah sang ibu meninggal, sedangkan ayah mereka bekerja di Kalimantan. Tasripin memilih berhenti sekolah dan menjadi buruh tani demi mendapat upah untuk makan nasi kerupuk atau garam bagi ketiga adiknya.

KOMPAS.com - Ketika jutaan anak-anak seusianya bersekolah, bermain, dan disayang orangtua, Tasripin (12) terpaksa menjadi buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya. Peran kepala rumah tangga kini disandangnya.

Tasripin mengambil alih tanggung jawab itu setelah ditinggal kedua orangtuanya. Kemiskinan kian menyudutkannya. Bocah itu tak lagi menikmati waktu, dan menguapkan cita-citanya menjadi guru.

Keseharian Tasripin, warga Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sudah dimulai saat azan subuh baru saja berkumandang. Ia memulai hari dengan menanak nasi di dapur yang gelap dan lembab. Ketiga adiknya dibangunkan, lalu satu per satu dimandikan.

”Yang paling kecil yang rewel. Nangis terus. Sering tak mau dimandikan jika sedang ingat bapak. Jika ada uang, saya kasih, baru diam,” tutur Tasripin, Sabtu (13/4), di rumahnya, yang jauh dari standar kelayakan di kaki Gunung Slamet.

Beda dengan rumah sebelahnya yang berlantai keramik dan bertembok, rumah yang ditempati Tasripin dan adik-adiknya terbuat dari papan berukuran sekitar 5 meter x 6 meter. Hanya dua kursi panjang dan satu meja kayu yang menjadi perabot di ruang yang lantainya beralaskan semen pecah-pecah itu. Meski hari sudah mulai siang, ruangan itu pengap.

Tasripin dan ketiga adiknya, Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4), tidur di dipan kayu beralaskan karpet plastik. Saat dingin menyergap, mereka hanya berselimutkan sarung. Lingkungan yang jelas tidak sehat bagi bocah-bocah itu.

Setelah memandikan ketiga adiknya di pancuran yang mengalir alami di belakang rumah, Tasripin menyuapi Daryo, si bungsu. Pagi itu, mereka sarapan mi instan.

”Ini sedang ada rezeki, Pak. Jika enggak ada uang, ya nasi putih sama kerupuk, kadang cuma sama garam,” ujar Tasripin. Ia putus sekolah sejak kelas tiga sekolah dasar (SD) sebab harus mengurus ketiga adiknya itu.

Satinah, ibu mereka, meninggal dua tahun lalu, di usia 37 tahun, akibat terkena longsoran batu saat menambang pasir di dekat rumahnya. Kuswito (42), ayah mereka, sudah setengah tahun terakhir ini merantau ke Kalimantan bekerja di pabrik kayu bersama Natim (21), anak sulungnya.

Jadi buruh tani

Meski yatim dan jauh dari ayahnya, Tasripin berusaha mandiri. Ia cekatan mengurusi adik-adiknya. Untuk makan sehari-hari, dia bekerja membantu tetangganya menjadi buruh tani, bekerja di sawah, mengeringkan gabah, hingga mengangkut hasil panen turun. Ia tidak mengeluh meski harus naik bukit sejauh 2 kilometer dari sawah ke rumah juragannya. Tasripin berangkat ke sawah pukul 07.00 dan pulang pukul 12.00. ”Kadang dibayar beras, kadang uang Rp 10.000. Dicukupin buat makan dua kali sehari. Harus disisain buat jajan adik-adik,” jelasnya.

Sering kali ia terpaksa berutang. Beruntung, tetangganya memaklumi kondisi mereka. ”Kami paham kondisi mereka. Jika Tasripin beberapa hari tidak ada pekerjaan, tetangga atau bibinya yang kasih makan,” ujar Salimudin (59), pemilik warung tempat Tasripin biasa membeli bahan makanan.

Selain memasak, Tasripin juga mencuci pakaian, menyapu rumah, hingga terkadang membetulkan talang air rumahnya yang bocor. Meskipun bekerja, dia selalu memantau ke mana adik-adiknya bermain. Jika sore menjelang dan adiknya belum pulang, ia akan mencari mereka hingga ke hutan.

Ayahnya beberapa kali mengirim uang melalui bibi Tasripin. Uang itu untuk membayar listrik dan kebutuhan mendesak, seperti jika ada adiknya yang sakit. Akibatnya, sekolah menjadi barang mahal bagi mereka. Dari keempat anak itu, hanya Daryo yang bersekolah di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tasripin sebenarnya masih terlilit biaya sekolah lebih dari Rp 100.000 di SD Negeri Sambirata 3. Kedua adiknya, Dandi dan Riyanti, tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek teman-temannya. Riyanti, adik perempuannya, sakit. Ada luka di kepalanya.

Meski miskin dan tidak merasakan pendidikan, Tasripin merasa bertanggung jawab pada akhlak adik-adiknya. Tiap sore dia mengajari adik-adiknya membaca Al Quran. Dengan sabar, dia juga mengajak adiknya shalat dan mengaji di mushala depan rumahnya. Saat malam kian larut, ia mulai menidurkan adiknya. Dinginnya angin gunung yang menelusup melalui celah papan rumahnya dilawan Tasripin dengan memeluk erat adik-adiknya yang lelap.

Terpencil dan tertinggal

Potret kehidupan Tasripin tak lepas dari kemiskinan yang membelenggu keluarganya. Ini diperparah kondisi Dusun Pesawahan yang terpencil. Saat masih bersekolah, Tasripin harus berjalan kaki sekitar 3 kilometer melintasi jalan berbatu, perbukitan, dan hutan setiap hari.

Kepala Dusun Pesawahan Warsito membenarkan, banyak anak putus sekolah dan tak menuntaskan pendidikan dasar sembilan tahun di dusunnya. Selain faktor jarak, kemauan untuk belajar warga dusun itu juga masih rendah. Bahkan, di dusun itu hanya ada dua lulusan sekolah menengah atas dan dua lulusan sekolah menengah pertama. ”Ratusan warga masih buta huruf,” kata Warsito.

Dusun Pesawahan berjarak sekitar 30 kilometer dari Purwokerto, pusat kota Banyumas. Dusun itu terdiri atas 103 rumah dengan penduduk berjumlah 319 jiwa.

Bupati Banyumas Achmad Husein mengaku khawatir kisah Tasripin hanya fenomena gunung es di Banyumas. Aparatur pemerintah harus peduli.

Program Perhitungan Gaji Karyawan


#include <iostream.h>
#include <iomanip.h>
#include <string.h>
#include <conio.h>

void masuk();
void garis();
void main()
{
   garis();
   cout <<"\n PROGRAMMING GAJI KARYAWAN " <<endl;
   cout <<" oleh : Nanang Yuniantoro " <<endl<<endl;
   garis();
   masuk();
   garis();

   getch ();

}

void masuk()
{
char nama[30], naama[30];
float nik, hari;
   int lembur;
   double gaji;
   cout <<endl;
   cout <<" Masukkan Nama Anda = "; cin>>nama;
   strcpy(naama, nama);
   cout <<" Masukkan NIK Anda = "; cin>>nik;
   cout <<" Masukkan Jumlah Hari Anda Masuk = "; cin>>hari;
   cout <<" Masukkan Berapa Jam anda lembur = " ; cin>>lembur;
   garis();
   gaji=(hari*75.000)+(lembur*10.000);
   cout <<endl;
cout <<"Nama | NIK | Hari Masuk | Lembur | Total " <<endl;
   cout <<""<<naama<<" "<<nik<<" "<<hari<<" "<<lembur<<" Rp. "<<gaji<<"rb"<<endl;
}
void garis()
{
int i;

   for (i=0;i<35;i++)
   cout <<"-";
   cout <<endl;
}

Kisah Guru Bijak Dan Sebuah Toples


Sebuah kisah inspiratif populer. Pada suatu waktu, terdapat seorang guru yang bijak. Banyak murid yang datang dari tempat jauh, untuk mendengarkan petuah bijaknya. Pada suatu hari, seperti biasa, para murid berkumpul untuk mendengarkan pelajaran dari sang guru.


Banyak murid mulai datang memenuhi ruang pengajaran. Mereka datang dan duduk dengan tenang dan rapi, memandang ke depan, siap untuk mendengar apa yang dikatakan oleh  sang guru.

Akhirnya sang guru pun datang, lalu duduk di depan para murid-muridnya. Sang guru membawa sebuah toples besar, disampingnya terdapat setumpuk batu kehitaman seukuran genggaman tangan. Tanpa bicara sepatah kata pun, Sang guru mengambil batu-batu tersebut satu persatu, lalu memasukkannya hati-hati ke dalam toples kaca. Ketika toples tersebut sudah penuh dengan batu hitam tadi, sang Guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"
"Ya guru," jawab para murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tanpa berkata apa-apa, sang guru mulai memasukkan kerikil-kerikil bulat berwarna merah ke dalam toples itu.Kerikil-kerikil itu cukup kecil sehingga jatuh di sela-sela batu hitam besar tadi. Setelah semua kerikil masuk kedalam toples, sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"
"Ya guru," jawab para murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Masih tanpa berkata apa-apa lagi, kini sang guru mengambil satu wadah pasir halus, lalu memasukkannya ke dalam toples. Dengan mudah pasir-pasir tersebut pun masuk memenuhi sela-sela kerikil merah dan batu hitam. Setelah masuk semua, kini sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya lagi.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"

Sekarang para murid tak terlalu percaya diri menjawab pertanyaan gurunya. Namun terlihat bahwa pasir tersebut jelas memenuhi sela-sela kerikil di dalam toples, membuatnya terlihat sudah penuh. Kali ini hanya sedikit yang mengangguk, lalu menjawab,

"Ya guru," jawab beberapa murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tetap tanpa berkata apa-apa lagi, sang guru berbalik mengambil sebuah tempayan berisi air, lalu menuangkannya dengan ahti-hati ke dalam toples besar tersebut. Ketika air sudah mencapai bibir toples, kini sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya lagi.
"Apakah toplesnya sudah penuh?"

Kali ini kebanyakan murid memilih diam, namun ada dua hingga tiga yang memberanikan diri menjawab,
"Ya guru," jawab sedikit murid tersebut, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tetap tanpa berkata apa-apa lagi, sang guru mengambil satu kantong berisi garam halus. Ditaburkannya sedikit-sedikit dan hati-hati dari atas permukaan air, garam pun larut, lalu ditambahkan lagi sedikit, demikian seterusnya hingga seluruh garam tersebut habis larut dalam air. Kini sang guru menghadap kepada par amurid, dan sekali lagi bertanya, "Apakah toplesnya sudah penuh?"

Kali ini semua murid benar-bnar diam. Hingga akhirnya seorang murid yang berani menjawab, "Ya guru, toples itu sekarang sudah penuh".

Sang guru menjawab, "Ya benar, toples ini sekarang sudah penuh".
Sang guru kemudian melanjutkan perkatannya,

"Sebuah cerita selalu memiliki banyak makna, dan setiap dari kalian telah memahami banyak hal dari demonstrasi ini. Diskusikan dengan tenang sesama kalian, apa hikmah yang kalian punya. Berapa banyak hikmah berbeda yang dapat kalian temukan dan kalian ambil darinya."

Para murd pun memandang sang guru, dan ke arah toples yang kini berisi dengan berbagai warna, ada hitam, ada merah, ada pasir, air, dan garam. Lalu dengan tenang mereka mendiskusikan dengan murid lainnya. Setelah beberapa menit kemudian sang guru mengangkat tangannya, seluruh ruangan pun diam. Sang guru lalu berkata,
"Selalu ingatlah bahwa tak pernah ada hanya satu interpretasi dari segalanya. Kalian telah mengambil semua hikmah dan pesan dari cerita, dan setiap hikmah, sama pentingnya dengan yang lain.

Lalu tanpa berkata-kata lagi, sang guru pun bangkit dan meninggalkan ruangan.

Kisah inspirasi diatas diterjemahkan dari
http://www.rogerdarlington.me.uk/stories.html Kisah Guru Bijak dan Sebuah Toples

Komunitas Menara, PAUD Berkualitas Tanpa Biaya


Ahmad Fuadi

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini banyak pihak yang mulai peduli dengan masalah pendidikan di Indonesia, khususnya bagi anak-anak dari kalangan menengah ke bawah. Tanpa banyak bicara, pria ini langsung mengambil langkah konkret untuk anak-anak ini.
Sosok ini tentu telah dikenal oleh banyak orang melalui buku bertajuk "Negeri Lima Menara". Ya, dia adalah Ahmad Fuadi. Kesuksesannya dalam menulis buku tersebut membuahkan hasil yang yang tak disangka dan membuatnya tergerak untuk menggunakannya dalam wujud kepedulian sosial.
"Saya tidak pernah menyangka. Saat berpikir mau diapakan hasil yang saya peroleh, saya ingat kata guru saya bahwa orang sukses adalah orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain," kata Fuadi saattalkshow pada kegiatan Indonesia Menyala di Kantor Pusat JNE, Jakarta, Sabtu (13/4/2013).
"Bermanfaat bagi keluarga dan teman itu hanya lingkup kecil saja. Akhirnya saya berpikir mendirikan sebuah komunitas. Jadilah Komunitas Menara," ujarnya.
Komunitas Menara merupakan tempat pendidikan anak usia dini (PAUD) yang diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan keluarga tidak mampu. Untuk masuk ke komunitas ini, orangtua anak-anak tersebut sama sekali tidak dipungut biaya. Namun, bukan berarti pendidikan yang diberikan di sana tidak berkualitas meski semuanya gratis.
Para guru yang mengajar di sekolah yang terletak di Bintaro, Jakarta Selatan, tersebut tetap menjalani pelatihan mengajar secara berkala sehingga kualitas pendidikannya tetap terjaga. Komunitas yang berdiri sekitar dua tahun ini juga diperkuat oleh relawan-relawan yang selalu menggagas kegiatan edukatif untuk anak-anak yang bergabung di komunitas.
"Saya sengaja memilih PAUD karena segala hal yang baik itu berawal dari usia dini. Apalagi melihat kondisi negara sekarang yang banyak terjadi korupsi dan itu orang pintar yang melakukannya. Berarti pembentukan karakter saat kecil masih kurang," kata Fuadi.
Hingga saat ini, murid yang bergabung di Komunitas Menara ini berjumlah sekitar 40-an anak. Agar tepat sasaran dengan tujuan memberikan pengajaran kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, Fuadi melakukan seleksi yang sangat ketat bahkan hingga melakukan survei untuk melihat kondisi keluarga anak tersebut.
Selain itu, saat ini kondisi ruangan yang digunakan untuk aktivitas belajar-mengajar belum bisa memuat banyak sehingga ia harus mempertimbangkan dengan baik calon siswanya. "Kami benar-benar melihat keadaannya dan mencari yang benar-benar tidak mampu. Saya berharap ini tidak hanya berhenti di Jakarta," ujarnya.
Editor :
Laksono Hari W

Apakah Manusia Perlu Tuhan untuk Menjadi Bermoral?



KOMPAS.com — Mana yang lebih tepat? Apakah manusia bermoral karena percaya Tuhan atau manusia percaya Tuhan karena manusia bermoral. Hingga kini, jawaban pasti pertanyaan itu masih menjadi perdebatan.

Frans de Waal, ahli primata ternama dunia, biolog di Emory University dan Direktur Living Links Center di Yerkes Primate Center di Atlanta, mencoba memberi uraian untuk menuju pada jawaban akan pertanyaan tersebut lewat bukunya, The Bonobo and the Atheist.

Agamawan dan kaum pemeluk agama yang taat pastinya akan menjawab bahwa manusia bermoral karena percaya Tuhan. Namun, De Waal menjawab sebaliknya. Menurutnya, manusia percaya Tuhan karena manusia bermoral.

Jawaban De Waal didasarkan atas hasil penelitian selama bertahun-tahun pada perilaku primata besar seperti simpanse dan bonobo. Ia menunjukkan bahwa moralitas berkembang sebelum manusia dan kebudayaan manusia berkembang.

Penelitian menunjukkan bahwa primata besar memiliki empati. Mereka memiliki rasa keadilan, mereka bisa memelihara dan peduli satu sama lain serta mampu berbagi dengan individu lain yang kurang beruntung.

Karakter primata yang menyerupai sifat manusia tersebut membuat De Waal berpikir bahwa primata pun punya akar moralitas. Walaupun, memang, primata selain manusia belum bisa dikatakan bermoral; primata punya penyusun utama moralitas.

Dalam bukunya, De Waal menuliskan, "Ada sedikit bukti bahwa hewan menilai kesesuaian suatu aksi yang tak secara langsung berdampak pada dirinya. Dalam perilaku ini, kita pun mengenal nilai yang sama."

"Saya mengambil petunjuk-petunjuk kepedulian pada komunitas ini sebagai tanda bahwa penyusun utama moralitas lebih tua dari kemanusiaan, dan kita tidak perlu Tuhan untuk menjelaskan bagaimana kita bisa sampai pada posisi kita sekarang," tulis De Waal seperti dikutip ABC News, Senin (8/4/2013).

De Waal yang juga seorang ateis menegaskan, moralitas berkembang dari proses perkembangan spesies manusia itu sendiri, bukan diberikan oleh Tuhan. Ia mengungkapkan tanda lain adanya moralitas pada primata. Salah satunya, primata selain manusia juga bisa merasa bersalah.

Kasus tersebut dijumpai pada bonobo bernama Lody di Kebun Binatang Milwaukee County. Bonobo itu menggigit tangan dokter hewan yang memberikannya vitamin. Akibat gigitan, dokter hewan tersebut kehilangan satu jari.

Mendengar teriakan sang dokter saat jarinya digigit, Lody menengok ke atas dan terkejut. Ia lalu melepaskan tangan yang sudah kehilangan satu jari itu. Hari berikutnya, saat dokter hewan kembali menengoknya, Lody lari ke sebuah sudut, menundukkan kepala dan melingkarkan tangan di tubuhnya.

Yang mengejutkan, 15 tahun setelah berpisah dengan dokter hewan itu, Lody tetap mengenalinya dan mengingat kesalahannya. Saat dokter hewan itu berdiri di kerumunan, Lody berlari ke dokter itu seraya melihat tangan kiri sang dokter. Lody terus melihat tangan dan wajah dokter itu.

Apa yang dilakukan Lody menjadi bukti adanya bibit-bobot moralitas pada hewan. Apakah Lody merasa malu? Atau, apakah dia takut akan pembalasan? Yang jelas, apa yang dilakukan Lody adalah bukti bahwa dia merasa bersalah, sekaligus menjadi tanda bahwa ia punya bibit moralitas.

Berkali-kali, para ahli primata juga mendokumentasikan rasa bersalah, sedih, dan iba saat pada individu lain yang sekarat, pada ibu kera yang kehilangan anaknya, serta memelihara anakan yang kehilangan orangtuanya.

"Beberapa orang mengatakan, hewan adalah diri mereka sendiri, sementara manusia mengikuti sesuatu yang ideal, tapi itu terbukti salah. Bukan karena kita tak punya sesuatu yang ideal tetapi karena mereka pun memilikinya," tulis De Waal.

Ada satu kasus menarik. Bonobo pun tahu cara mencegah perang. Koloni bonobo kadang berkumpul saat dua pejantan akan berperang. Yang menarik, saat perang telah siap dimulai, bonobo betina yang ada di sekitarnya justru mulai bercinta dengan sesama ataupun lawan jenisnya.

Dalam sudut pandang manusia, apa yang dilakukan bonobo itu bisa disebut orgy. Lalu, apakah orgyadalah wujud moral? Pastinya, bagi manusia, hal itu tidak bermoral. Namun mungkin, bonobo hanya menyadari bahwa memang lebih baik bercinta daripada berperang.
Sumber :
ABCNews
Editor :
yunan