• Hai, Welcome ! Like us on:

Program Target Menetukan IPK Kumulatif


Buat Kawan-kawan yang ingin menghitung IPK kumulatif silahkan coba.. hehe


// Program 9 April 2013

#include <iostream.h>
#include <conio.h>
#include <iomanip.h>

void garis();  //prototype untuk garis
void main()
{
   int i;
   float o[20], n, rata, total;

garis();
cout <<setw(40)<<" Programing Function di function " <<endl;
   cout <<setw(38)<<" oleh   :   Nanang Yuniantoro " <<endl;
   garis();
   cout <<endl<<endl<<endl;
   garis();
   cout <<setw(35)<<" Daftar Target IPK  " <<endl<<endl;
   garis();
   cout <<" Masukkan Target IPK selama (Semester) = " ;cin>>n;
   for (i=0;i<n;i++)
    {
    cout <<" Semester ke - " <<i+1<< " = "; cin>>o[i];

      }
      clrscr();
   garis();
   cout <<"        Semester " <<"                Target IPK " <<endl;
   garis();
   for (i=0;i<n;i++)
   {
     total=total+o[i];
     rata=total/n;
}
   for (i=0;i<n;i++)
    {
         cout<<"|"<<"          "<<i+1<<"             | "<<"           "<<o[i]<<"          |";
         cout <<endl;
      }
   garis();
   cout <<" Jumlah Total    = " <<total<<endl;
   cout <<" IPK Kumulatif   = " <<rata<<endl;
   getche();
}
void garis()
{
int i;
   for (i=0;i<50;i++)
   cout << '+' ;
   cout <<endl;
}



Para Pengungkap Kecurangan UN Itu Kini Berjuang Sendiri


KOMPAS.com — "Saya dimarahi dan dimusuhi teman-teman di sekolah. Kata teman-teman, guru-guru jadi kena masalah gara-gara saya. Padahal, saya cuma bicara jujur. Kata ayah dan bunda, kita harus selalu jujur."
Demikian dikatakan Muhammad Abrary Pulungan (14) seusai pemutaran video dokumenter kolaborasi "Temani Aku Bunda" dan diskusi "UN untuk Apa?", Sabtu (6/4/2013) lalu, di XXI Epicentrum, Jakarta. Video dokumenter berdurasi 77 menit yang dibuat selama lebih dari satu tahun itu berkisah tentang pengalaman Abrar yang pernah melaporkan kecurangan ujian nasional (UN) di sekolahnya, SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, dua tahun lalu atau tepatnya Mei 2011.
Pengalaman buruk dan traumatik bagi Abrar itu berawal ketika dua hari sebelum UN ia dan beberapa temannya disuruh oleh salah satu gurunya membuat kesepakatan saling membantu memberikan jawaban soal saat ujian. Dalam kesepakatan tertulis itu, para siswa dilarang memberi tahu siapa pun, termasuk orangtua.
Pada saat ujian, Abrar gelisah saat teman-temannya bebas bertukar jawaban, padahal ada pengawas yang sedang bertugas. "Kita disuruh merahasiakan dari orangtua atau saudara sampai dewasa," kata Abrar di dalam film dengan produser Yayasan Kampung Halaman dan sutradara Tedika Puri Amanda serta Irma Winda Lubis (ibu dari Abrar) itu.
Setelah ujian dan sesampainya di rumah, Abrar tidak tahan dan mengadu ke ibunya sambil menangis.
Mendengar cerita anaknya, Winda pun berang dan meminta sekolah mengakui dan meminta maaf ke publik. Seluruh proses perjalanan Winda mencari kebenaran dan keadilan bagi Abrar tak kunjung berbuah sampai hari ini. Pemerintah daerah melalui dinas pendidikan telah membentuk tim investigasi, tetapi hasilnya nihil.
Keluarga Abrar pun ke sana kemari mengadu ke berbagai lembaga bantuan hukum dan berbagai organisasi pejuang hak anak untuk meminta perlindungan, tetapi sampai kini tanpa kabar.
Segala macam bukti telah diserahkan, termasuk rekaman suara pengakuan guru Abrar kepada orangtua Abrar. Di dalam film terdengar jelas suara guru Abrar yang mengaku meminta para siswa untuk berlaku tidak jujur. Alasannya, ia hanya ingin membantu siswa dan orang tua agar lulus UN.
"Abrar dibilang gurunya kalau ia hanya terlalu sensitif dan kita harus ikut arus orang lain," kata Winda.
Meski perjuangan terasa tanpa ujung, Winda dan suaminya tidak patah arang. Apalagi karena Abrar pun meminta kedua orangtuanya, terutama ibunya, untuk tidak menyerah dan tetap berjuang. "Saya tidak mau ada siswa bodoh dapat nilai bagus. Kalau pemimpinnya orang bodoh, nanti Indonesia bisa roboh," kata Abrar dalam sesi diskusi.
Diusir warga
Kasus serupa pada tahun yang sama juga dialami Alif (14), siswa yang melaporkan kecurangan UN di sekolahnya, SD Negeri Gadel 2, Tandes, Surabaya. Alif juga diminta guru memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak tahu.
Kasus ini ramai diperbincangkan hingga keluarga Siami (ibu Alif) diusir warga dari rumahnya karena tidak suka dengan kejujuran Alif. Alif dan keluarganya pun dituding sok jujur oleh guru, orangtua siswa lain, hingga masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
"Kami mendidik Alif untuk selalu jujur dan percaya dengan kemampuan sendiri. Tetapi, di sekolah ia malah diajari tidak jujur. Saya dihujat masyarakat dan dianggap sok pahlawan," kata Siami yang datang ke pemutaran film tanpa Alif.
Bagi orangtua siswa lain dan masyarakat setempat, kata Siami, berbagi jawaban soal ujian sudah hal yang lumrah wajar. Guru yang meminta Alif berbagi jawaban itu pun justru dianggap oleh masyarakat hanya berkeinginan membantu siswa agar lulus UN.
Bagi Siami, hal ini tidak bisa dibiarkan dan ia harus bertindak. "Kalau saya diam saja dan tidak berjuang, nanti saya tidak bisa kasih contoh baik ke anak saya," ujarnya.
Sayangnya, seperti halnya Winda, Siami kini juga berjuang sendiri. Setelah satu tahun kasus Alif berlalu, semua dukungan dan bantuan menguap entah ke mana. Padahal, Siami merasa Alif masih membutuhkan bantuan, terutama pendampingan psikologis.
"Yang penting anak saya punya teladan orang dewasa yang berlaku jujur," ujarnya.
Psikolog anak Silmi Kamilah Risman berharap orangtua selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak sejak dini di rumah karena anak sudah mulai mengikuti contoh-contoh yang ada di masyarakat. Orangtua harus tetap kritis meski harus menentang arus.
"Suara-suara yang kritis itu seperti suara sumbang dalam tim koor yang kompak," ujarnya.

Sumber : kompas.com

Berbagi Pendidikan dengan Anak-anak Kaki Merapi


Berbagi Pendidikan dengan Anak-anak Kaki Merapi


Suasana antusias anak-anak ketika maju menuliskan jawaban dari pertanyaan pengajar.


            FOSMA MENGAJAR adalah salah satu program kerja dari UKM FOSMA UNY (Forum Musyawarah Mahasiswa), FOSMA MENGAJAR atau FM ini bertujuan untuk membantu memajukan pendidikan di daerah-daerah terpencil yang berada di Yogyakarta, FM telah bekerjasama dengan kepala dusun didaerah Magelang yang berada tepat dibawah kaki gunung merapi yang bersuhu dingin.
            Pagi itu jam 07.15 kami rombongan dari FOSMA MENGAJAR sampai disana dengan rasa tidak sabar ingin segera menularkan ilmu kepada anak-anak yang riang menyambut kedatangan kami, kemudian kami bergegas untuk membagi diri dan mengajar ke kelas-kelas dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Beraneka ragam pelajaran tersedia disitu, mulai dari belajar menulis untuk anak-anak TK, ada yang belajar tentang dunia hewan, tumbuhan, dan bahasa inggrisnya untuk anak-anak SD kelas 1 dan 2, ada yang belajar bilangan pecahan, pembagian untuk anak SD kelas 3, ada  yang belajar tentang sisi, titik sudut, rusuk kemudian pemeranan dialog dalam pelajaran bahasa Indonesia untuk kelas 4 SD, lalu ada pelajaran matematika dan sejarah untuk kelas 5 SD dan kelas 6 SD mempelajari tentang persiapan UN.
            Beraneka ragam ekspresi ditunjukkan oleh anak-anak tersebut ada yang sangat antusias untuk aktif maju menjawab pertanyaan yang diberikan oleh  pengajar, ada juga yang keluar meninggalkan kelas karena ingin melihat kelas yang lain. Banyak kejadian-kejadian yang menarik disana bisa memberikan ilmu yang sangat berguna untuk masa depan mereka. Sebenarnya mereka memiliki potensi yang luar biasa untuk menuntut ilmu ini, mereka giat dan rajin untuk belajar.
            Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9.00 WIB, anak-anak yang melihat jam dinding itupun bergegas mengemasi peralatan belajar dan memasukkan kedalam tas, dan waktunya kami untuk mengakhiri pelajaran pada pagi yang menyenangkan ini. Dan setelah ini kami sedikit berdiskusi dengan pemuda dan kepada dusun untuk membahas besok akan mengadakan try out untuk yang kelas 6, dan juga kami banyak berdialog disitu mengenai masa depan anak-anak didaerah situ yang hanya berpendidikan SMP kemudian bertani salak dan bapak kepada dusun juga bahwa tingkat kesadaran orang tua akan pendidikan anaknya itu masih kurang jadi masih berpola dengan kehidupan yang dulu, serta masih banyak frame-frame negatif.

Ilmuwan India Ciptakan Pakaian Anti-perkosaan

Jangan lihat dari satu sisi pandangan saja ya...

NEW DELHI, KOMPAS.com — Maraknya kasus perkosaan di India memunculkan ide sejumlah teknisi untuk menciptakan pakaian dalam perempuan anti-perkosaan.

Pakaian dalam ini akan memberi sengatan listrik sebesar 3.800 kilovolt saat seseorang mencoba menyerang dan memerkosa seorang perempuan. Tak hanya itu, pakaian dalam ini dirancang untuk mengirim pesan singkat secara otomatis ke kantor polisi terdekat atau keluarga. Pesan singkat itu berisi permintaan tolong dan lokasi berlangsungnya kejahatan.

Motivasi Dari Gadis Remaja 13 tahun




SEMARANG, KOMPAS.com — Tak pernah terbayang di benak gadis berusia 13 tahun ini berpidato langsung di depan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan di hadapan khalayak internasional pada kegiatan Millenium Development Goals (MDGs) di Bali pada akhir Maret lalu.
Penampilan gadis bernama lengkap Jasmine Mutia Salsabila pada malam itu mampu membuat orang nomor satu Indonesia tersebut terpukau menatap kemahirannya menyampaikan masalah kemiskinan dalam bahasa Inggris tanpa gugup di hadapan delegasi internasional.
"Ya pasti grogi awalnya tapi setelah mulai bicara semuanya berjalan saja karena kan niatnya memang ingin membantu anak-anak miskin," ujar Jasmine saat dijumpai di rumahnya di Semarang, Sabtu (30/3/2013).

ANTUSIASME

oleh : Shelvia Sandra

Hai teman-teman,
Bagaimana kabarnya?
Bagaimana kuliahnya dan kerjanya? Sekolahnya??? Organisasinya??
Masih semangat??? Atau sudah agak sedikit bosan?
Cerita sedikit ya, Upin Ipin ini membuat saya menjadi banyak belajar dan membaca untuk membuat artikel yang menarik untuk dishare. Banyak sekali manfaat selain itu. Saya menjadi lebih cermat dalam membaca dan memilih bacaan. Banyak buku yang saya “lahap” setiap minggunya. Hayooo siapa yang tertarik menjadi staff ahli departemen Titian News??? Hubungi Sandra ya heheh (ini cerita apa malah perekrutan sih ^.^)
Berikut saya ambil bagian yang menurut saya menarik untuk dishare dari buku SUCCEED FOR YOURSELF EDISI III karya Richard Denny (penulis bestseller internasional, Selling to Win)
Ralph Waldo Emerson “tak ada hal besar apa pun akan pernah diraih tanpa antusiasme”
Apakah antusiasme, seperti motivasi yang memiliki kekuatan tertentu?
Sebuah cerita dari David Bellamy, seorang ilmuwan yang membawakan sebuah acara tentang botani di Inggris tahun 1970-an. Awalnya program ini dirasa tidak penting oleh penonton. Tetapi setelah David Bellamy menunjukkan antusiasme dan semangatnya dalam menyampaikan materi tersebut, antusiasme penonton pun berdatangan. Sehingga semakin banyak yang terbantu dengan materi tersebut. Di Inggris dan di seluruh dunia, antusiasmenya ini tentang topik ini telah mendidik dan membangkitkan semangat/gairah.
Andai saja setiap guru memiliki antusiasme seperti David Bellamy, pendidikan akan mengalami lompatan ke depan.
Antusiasme pasti merupakan keadaan pikiran. Barangkali antusiasme adalah ungkapan luar dari pikiran kita. Antusiasme mengilhami kita untuk bertindak. Antusiasme itu seperti bahan bakar, sumber energi ekstra. Antusiasme dalam pekerjaan bisa membuat aktivitas yang membosankan atau tidak penting menjadi suatu kegembiraan, waktu berjalan lebih cepat dan upayanya lebih memuaskan. Dan ingat, antusiasme dapat menular. Tularkan antusiasme terhadap hal positif kepada orang lain.
Membangun antusiasme :
1. Jangan palsu/pura-pura, jadilah yang sesungguhnya
Hal ini bukanlah pertanyaan apakah anda mampu, atau apakah anda mampu.
Berikut kata-kata yang mungkin membantu
-sebatang lilin tidak akan kehilangan terangnya dengan menyalakan lilin lainnya
-kebahagiaan terwujud untuk dibagikan
-keceriaan adalah atmosfer dimana segala sesuatu berjaya
-sedikit senyum amat meningkatkan nilai wajah anda
-penampilan anda tidak lengkap tanpa senyum
-yang membuat hidup bahagia, bukanlah melakukan apa yang anda suka, tetau menyukai hal-hal yang harus anda lakukan
2. Perlihatkan emosi anda-melihat dan merasa antusias
3. Rumuskan sasaran
4. Praktikkan teknik jasmani untuk meningkatkan antusiasme anda
-bicaralah lebih cepat
-ubah intonasi anda
-Berjalan lebih cepat
-Jangan berjalan dengan membungkuk
-Tersenyum, jangan merengut
-Jangan memasukkan tangan ke kantong saku saat berbicara
-Jangan bicara dengan tidak jelas
-Bernafaslah dalam-dalam
-Siaplah untuk tertawa
5. Bersikap ceria
6. Perlihatkan antusiasme anda pada orang lain
Contoh sederhana : saat berjumpa di perkuliahan atau bekerja, senyum dan katakan “senang sekali bertemu anda kembali disini”
Contoh dari saya, setiap saya kuliah, saya berusaha antusias dengan mata kuliah tersebut walau kadang mengantuk karena dosen seperti ceramah subuh :D. Antusiasme saya ini saya ekspresikan dengan memperhatikan betul antara buku panduan dan apa yang beliau ucapkan. Padahal teman-teman saya saat itu saya yakin mereka sedang BBM-an atau WhatsUp-an karena itulah yang mereka katakan saat kuliah usai dan memperlihatkan saya tentang isi percakapan maya mereka. Suatu ketika, saya merasa titik kekecewaan saya memuncak kepada teman-teman saya yang menyepelekan mata kuliah tersebut.
Hingga saya merasa harus menularkan antusiasme saya. Saya mencoba bertanya kepada dosen dengan suara yang lantang, nada yang cepat dan intonasi yang meyakinkan hingga dosen pun meminta pengulangan. Setiap orang yang berada dalam kelas segera melihat kepada saya. Kebetulan itu saat pelajaran filsuf-filsuf asing yang menurut saya tidak sesuai dengan agama saya. Saat itu saya mendebat pernyataan filsuf “Tuhan telah mati dan meninggalkan manusia”. Dosen saya yang kebetulan juga ahli dalam memposisikan diri, segera menjawab pertanyaan saya sesuai pandangan filsuf. Lalu pertanyaan lainpun segera muncul seperti jamur di musim penghujan. Hingga waktu kuliah selesai pun, kuliah masih berlangsung dengan antusiasme yang tinggi. Hingga minggu berikutnya pula.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk semuanya... jangan lupa tinggalkan jejak suka, komen dan pengalaman yang bermanfaat untuk semua.
Saya tunggu cerita motivasinya 
Mari tularkan motivasi dan apresiasi dengan antusiasme diri menuju prestasi